Ilmuwan Ungkap Fakta Unik Terkait Ilmu Hitam dan Karma

Ilmuwan Ungkap Fakta Unik Terkait Ilmu Hitam dan Karma

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

Hitekno.com - Orang-orang mempunyai segala macam fobia, seringkali ketakutan irasional, dan kebencian nan dipicu oleh objek alias situasi tertentu.

Sementara banyak nan telah dipelajari dan ditulis tentang gangguan kekhawatiran seperti nan telah disebutkan dan tim peneliti berangkat untuk menyelidiki argumen di kembali keengganan terhadap rasa senang.

Dilansir dari Sputnik Newsrasa takut mengalami kegembiraan, mendorong upaya nan disengaja untuk menghindari emosi ini, sering didorong oleh faktor-faktor seperti masa mini nan tidak bahagia, perfeksionisme nan tidak semestinya, kesepian, dan kepercayaan pada ilmu hitam dan karma, sampel lintas budaya nan dilakukan oleh tim peneliti mengungkapkan.

Beberapa orang betul-betul membenci kebahagiaan, alias mempunyai "keengganan" nan berbeda terhadapnya, menggarisbawahi Mohsen Joshanloo, seorang guru besar ilmu jiwa di Universitas Keimyung di Korea Selatan, dan penulis studi tersebut.

Psikolog lintas budaya menggambarkan konsep ini sebagai "keyakinan bahwa mengalami alias mengekspresikan kebahagiaan dapat menyebabkan hal-hal jelek terjadi."

"Kebahagiaan biasanya disebut sebagai tujuan akhir hidup nan diperjuangkan (atau kudu diperjuangkan oleh setiap orang). Tetapi sekitar satu dasawarsa nan lalu, saya menjadi percaya bahwa ini tidak betul untuk semua orang," Joshanloo, honorary principal fellow di University of Melbourne, mengklarifikasi.

Kembali pada tahun 2013, Joshanloo datang dengan lima item "skala ketakutan bakal kebahagiaan."

Sekarang, dia menggunakannya untuk subjek studi di sejumlah besar negara. Dia menemukan bahwa orang-orang dalam beberapa budaya condong "memprioritaskan kerja keras, agama, keadilan, moralitas, keunggulan, dan prestise" daripada kebahagiaan.

Tapi itu belum semuanya, lantaran beberapa perseorangan sebenarnya mempertanyakan perlunya berjuang untuk menjadi bahagia. Mereka tampaknya berpikir bahwa kebahagiaan apalagi bisa berbahaya.

"Saya memulai serangkaian penelitian tentang ketakutan bakal kebahagiaan alias keengganan terhadap kebahagiaan dalam budaya nan berbeda untuk menyangkal pendapat nan tersebar luas bahwa semua orang terus-menerus berjuang untuk kebahagiaan dan memprioritaskan kebahagiaan di atas segalanya ... Hari ini, saya dapat mengatakan bahwa penelitian empiris nan telah saya dan peneliti lain lakukan telah membuahkan hasil dan bahwa ada kesadaran nan lebih besar dalam pengetahuan sosial tentang keragaman konsep awam kebahagiaan."

871 orang dewasa nan berperan-serta dalam penelitian ini berasal dari AS, Inggris, Prancis, Spanyol, Belanda, Brasil, Vietnam, Filipina, India, dan Rumania.

Mereka diminta untuk menanggapi survei online, di mana mereka menilai persetujuan mereka dengan pernyataan seperti, "Saya lebih suka tidak terlalu gembira, lantaran biasanya kegembiraan diikuti oleh kesedihan."

Survei ini juga mencakup "ukuran sembilan variabel prediktor potensial," penulis menunjukkan.

Ketika "kekuatan prediktif" dari variabel diuji bahwa rupanya kepercayaan "keengganan terhadap kebahagiaan" berakar jauh lebih dalam pada mereka nan lebih muda, kesepian, dan menunjukkan standar kesempurnaan nan terlalu tinggi.

Dalam twist nan menarik, sebagian besar orang nan merasakan keengganan kegembiraan percaya pada pengetahuan hitam alias karma, dan mempertahankan kenangan masa mini nan tidak bahagia.

"Di tingkat perseorangan ... kepercayaan pada kejadian paranormal, dan memegang pemahaman kolektivistik tentang kebahagiaan secara positif dikaitkan dengan keengganan terhadap kebahagiaan," kata penelitian tersebut.

Sumber Blog Hitekno - Berita Teknologi IT
Blog Hitekno -  Berita Teknologi IT
close
Atas