The Last of Us (Episode Pilot) Review: When You’re Lost in the Darkness

The Last of Us (Episode Pilot) Review: When You’re Lost in the Darkness

Sedang Trending 1 tahun yang lalu

“The Last of Us” merupakan serial terbaru HBO nan sedang trending. Diadaptasi dari game terkenal bergenre survival, Neil Druckman sebagai sutradara dalam game juga terlibat dalam penulisan naskah serial ini. Bersama dengan Craig Mazin nan terkenal melalui miniseries HBO, “Chernobyl” pada 2019 silam. Menampilkan Pedro Pascal dan Bella Ramsey, dua bintang utama nan sebelumnya juga terkenal melalui serial HBO, “Game of Thrones”.

“The Last of Us” merupakan serial survival dengan latar post-apocalypse, ketika peradaban modern hancur oleh penyebaran virus nan menginfeksi manusia. Joel mendapatkan misi untuk melindungi dan mengantar Ellie ke luar area karantina, untuk tujuan nan lebih besar dan mengakhiri pandemi dunia ini.

Ketika serial penyesuaian game “The Last of Us” diumumkan, ada antusiasme positif sekaligus skeptisme muncul dari audience. Karena game action-adventure ini sudah dicintai oleh para penikmat game-nya.

Project movie maupun serial penyesuaian game juga tetap mempunyai stigma sebagai project nan rawan gagal. Meski belakangan juga makin banyak project penyesuaian game nan sukses seperti “Arcane” (2021), “Cyberpunk: Edgerunners” (2022), hingga “Tekken: Bloodline” (2022). Mampukah “The Last of Us” menjadi serial nan memenuhi ekspektasi fandom game-nya serta menggaet fans serial nan baru?

The Last of Us

Presentasi Episode Pilot nan Setia pada Materi Sumber

Keterlibatan Neil Druckman dalam serial ini rupanya memberikan pengaruh besar dalam beragam aspek. Mulai dari penulisan, directing, hingga kreasi produksi mempunyai presentasi nan cocok dengan materi sumbernya. Meski dengan sedikit modifikasi minor, namun tidak pada aspek-aspek krusial.

“The Last of Us” sebagai game action-adventure nan kaya cerita sudah mempunyai semuanya untuk ditampilkan dalam format tontonan. Oleh lantaran itu tidak semestinya mengalami perombakan besar ketika diangkat menjadi serial live-action.

Kehadiran Druckman sepertinya sangat dihargai untuk membimbing serial ini, agar tidak melenceng terlalu jauh dari materi sumbernya. Kemudian membangkitkan semesta dalam game nan lebih immersive melalui kreasi produksi serta plot nan lebih layak ditampilkan sebagai storytelling pada penonton. Bukan sebagai pemain dalam game.

Melalui bagian pilot ini, setidaknya penonton sudah sukses diyakinkan, bahwa serial ini dikerjakan oleh orang-orang nan juga mencintai cerita dalam game “The Last of Us”, beserta karakter-karakter, konflik, dan segala problematika dalam kisahnya.

The Last of Us

Fokus pada Kisah Joel, Pedro Pascal Berhasil Tampilkan Akting nan Emosional

“The Last of Us” bagian perdana lebih konsentrasi pada latar belakang Joel Miller, nan diperankan oleh Pedro Pascal. Dimulai dari ‘hari pertama’, ketika virus mulai menyebar dan menimbulkan kekacauan. Joel mempunyai peran krusial sebagai karakter nan memberikan sentuhan emosional pada penonton. Sebagai figur ayah di masa lalu, kemudian menjadi guardian seiring berlanjutnya kisahnya nanti. Kisah Joel pada babak pertama sudah dipresentasikan dengan porsi nan tepat dan cukup untuk membikin karakter ini mendapatkan simpati dari penonton.

Pedro Pascal menjadi cast nan sudah sempurna sebagai protagonis dalam “The Last of Us”. Secara umum, dia juga tokoh nan sudah disukai banyak orang. Melalui penampilannya dalam “Game of Thrones” meski tidak sebagai salah satu karakter utama, serta serial nan juga tetap hype, “The Mandalorian”. Penampilannya sebagai figur pelindung nan cekatan dalam “The Last of Us” sudah sangat menyakinkan.

Sementara Bella Ramsey tetap punya PR untuk membuktikan pada penonton sebagai Ellie di episode-episode mendatang. Karena sebetulnya karakter nan dia mainkan mempunyai peran nan lebih besar lagi dalam kisah ini. Dalam bagian pertama ini, setidaknya kita sudah cukup memandang Ramsey sebagai Ellie nan cocok dengan ekspektasi penggemar.

Petualangan Survival nan Tidak Melulu Tentang Serangan Manusia Terinfeksi

Serial “The Last of Us” menyajikan kisah nan ramah dengan penonton baru. Tidak perlu relevan dengan game-nya untuk menikmati serial ini. Bagi fans intermezo bergenre survival, serangan zombie alias sejenisnya, serial ini bisa banget jadi tontonan baru untuk menemani pekan kita beberapa minggu ke depan.

Dengan format serial, kisah penyesuaian ini jadi mempunyai medium lebih luas untuk menjabarkan ceritanya. Mengenalkan kita pada tiap karakter baru, macam-macam golongan dalam semesta post-apocalypse ini, hingga masalah utama dan objektif untuk mengakhiri bencana.

“The Last of Us” lebih didominasi dengan latar peradaban manusia setelah jangkitan virus berjalan selama 12 tahun. Membuat kisah lebih konsentrasi pada petualangan memperkuat hidup pasca pecahnya bencana. Kita bisa memandang terbentuknya dystopia baru, serta pola hidup nan telah terbangun semenjak bumi berubah drastis.

Kita tidak melulu memandang karakter-karakter berlari dari kejaran manusia terinfeksi. Manusia maupun pihak-pihak dengan kepentingan tertentu juga rupanya bisa jadi ancaman dalam kisah ini. Ada banyak cerita nan bisa disimak dari latar post-apocalypse ini.

Secara keseluruhan, “The Last of Us” mempunyai bagian pertama nan sukses memuaskan fans lama, sekaligus mengundang penonton baru, khususnya fans aliran survival. Semoga kualitas ini terus memperkuat seiring berjalannya episode, lantaran serial “The Last of Us” ini sudah mempunyai presentasi nan berpotensi sebagai penyesuaian game nan berhasil.

Sumber Blog Hiburan TV, Movies, Music, dan Lifestyle
Blog Hiburan TV, Movies, Music, dan Lifestyle
close
Atas